BOOK REVIEW

Panggilan Menjadi Formator Seminari

Referensi buku menjadi formator seminari dari Komisi Seminari KWI

Detail ..

Pertemuan Palangka Raya Komisi Karya Misioner KWI bersama Ditjen Bimas Katolik

19 Juli 2007 08:03

Pengantar

“Orang Dayak adalah orang,
kalau Anda temui dan Anda tertawa, dia akan tertawa.
Bila Anda ajak minum-minum, dia ikut minum-minum,
bila diajak berkawan, dia akan jadi kawan.
Bila Anda beri sesuatu, dia akan rela memberi apa yang dia miliki.
Tetapi bila Anda berkawan dengan dia, dia merasa sama dengan Anda,
biar Anda berpangkat dia tetap memperlakukan Anda sebagai kawan.
Bagi dia, semua orang sama, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah”.
(Pater Z. Lintas, Pr, imam Keuskupan Ketapang, manuskrip pribadi)


Selama hari-hari pertemuan di Palangka Wacana Soverdi, Palangka Raya, dari 30 Juni sampai dengan 3 Juli 2007, kami, para dosen misiologi, yang diundang oleh Komisi Karya Misioner Konferensi Waligereja Indonesia (KKM-KWI) bersama Ditjen Bimas Katolik, berbicara dan berdiskusi tentang Yesus dalam komunitas-komunitas basis gerejawi di Indonesia. Dalam pertemuan ini kami sudah boleh mengalami penyambutan dalam keramahan dan keterbukaan orang-orang Dayak, sebagaimana dilukiskan di dalam puisi di atas. Kami menikmati alam Kalimantan yang indah dan belajar mengenal kebudayaannya yang kaya. Namun kami juga mendengar kisah penderitaan dan keterlukaan sejumlah masyarakat Dayak yang martabatnya direndahkan dan alamnya dieksploitasi. Keramahannya sering disalahgunakan dan kesabarannya dipermainkan. Mendengar berbagai kisah itu kami menjadi sadar bahwa selama ini kami membiarkan sejumlah masyarakat Dayak berjuang sendirian, sementara kami terlampau sibuk dengan kecemasan dan permasalahan sendiri. Kami kurang menunjukkan kepedulian terhadap penderitaan sejumlah masyarakat Dayak.

Kami menyadari bahwa kurangnya kepedulian terhadap sejumlah masyarakat Dayak hanyalah sebuah contoh dari apatisme sosial terhadap komunitas-komunitas yang tertindas di Indonesia. Hal ini merupakan satu kenyataan yang meluas di kalangan orang-orang Katolik Indonesia. Komunitas Basis Gerejawi (KBG) yang digagaskan sebagai cara baru menggereja di Indonesia belum mampu mempertajam kepedulian sosial di antara para warga Gereja. Pernyataan akhir ini kami buat sebagai bentuk keprihatinan kami atas kenyataan ini dan masukan kami guna mengubah kondisi ini.


1. Wajah Komunitas-komunitas Basis Gerejawi Kita

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2000 mendefinisikan KBG sebagai “Satuan umat yang relatif kecil dan yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan firman Allah, berbagi masalah sehari-hari, baik masalah pribadi, kelompok maupun masalah sosial, dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci. Komunitas basis seperti itu terbuka untuk membangun suatu komunitas yang juga merangkul saudara-saudara beriman lain… Komunitas basis itu diinspirasikan oleh teladan hidup umat perdana seperti dituliskan dalam Kitab Suci. Dengan demikian, komunitas basis bukan sekadar tampak sebagai bentuk atau wadah, dan bukan pula sekadar istilah atau nama, melainkan Gereja yang hidup bergerak dinamis dalam pergumulan iman”.

Dalam realitas, wajah KBG-KBG kita amat bervariasi. Dipandang dari sudut etnis dan budaya, ada KBG yang homogen dan ada pula yang heterogen. Dilihat dari kemampuan ekonomis, sejumlah KBG terdiri dari orang-orang yang mapan ekonominya, namun sebagian besar warga KBG Indonesia adalah orang-orang miskin, yang hidupnya terancam dan tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, warta tentang Yesus sungguh perlu dimaklumkan dan dihidupi sebagai kabar pembebasan yang memerdekakan orang dari berbagai belenggu (bdk. Luk 4:18-19) dan mendorong kerjasama dengan orang-orang lain.

Pengalaman menggereja sejumlah masyarakat Dayak, dengan kehadiran KBG, menunjukkan bahwa nilai-nilai dan semangat kekristenan sudah mulai mendorong umat Katolik Dayak yang umumnya hidup di stasi-stasi untuk memperbaiki kehidupan ekonomisnya, khususnya dalam wadah Credit Union. Walaupun demikian, secara umum kekristenan belum menjadi sebuah inspirasi yang menggerakkan proses pembebasan mereka dari berbagai bentuk pembelengguan struktural. Nilai-nilai kultural Dayak seperti egaliterisme, kedekatan dengan alam, dan solidaritas belum dijadikan sumber inspirasi untuk membangun sebuah eklesiologi dan dihayati di dalam KBG-KBG.

KGB telah hadir sebagai sebuah kenyataan menggereja di Indonesia. Ada KBG yang telah berperan sebagai komunitas perjuangan dan solidaritas lintas batas. Namun, laporan hasil penelitian Alocita tentang realitas KBG 2002-2004 menunjukkan bahwa kegiatan sebagian besar KBG masih terpusat pada perayaan-perayaan ritual dan kegiatan-kegiatan internal. Sebagai suatu institusi yang dibentuk oleh pimpinan Gereja, KBG-KBG bukanlah sebuah gerakan umat yang spontan dan melahirkan gagasan-gagasan dan praktik-praktik beriman yang bersifat alternatif.

Kondisi ini ditimbulkan antara lain oleh pola kepemimpinan dalam Gereja yang masih klerikalistis dan eklesiologi yang belum sungguh-sungguh berakar dalam realitas sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Dalam situasi seperti ini Yesus dihadirkan terutama sebagai Tuhan yang disembah dan pemimpin yang menetapkan sejumlah ajaran moral. Sebaliknya Dia kurang dialami sebagai guru yang mengajar dalam bahasa dan dengan cara yang sederhana, teman yang berjalan bersama dan saudara yang mendengarkan kisah-kisah penderitaan dan perjuangan serta membuka jalan menuju pembebasan (bdk. Luk 24:13-35). Akibatnya, Gereja Katolik Indonesia terkurung dalam ambivalensi yang mengerdilkan.

2. Rancang Bangun Eklesiologi Indonesia

Dengan pengalaman menggereja seperti tersebut di atas, usaha untuk merancang dan membangun sebuah eklesiologi Indonesia mesti bertolak dari sebuah kesediaan untuk menilai secara kritis pemahaman dan praktik ber-KBG hingga sekarang. Memang sudah ada banyak usaha dan inisiatif di berbagai tempat untuk menghidupi iman kristiani yang tanggap terhadap situasi. Walaupun demikian, kita tidak dapat bertindak seolah-olah tidak ada problem dengan KBG. Itu berarti, kita harus terus mencari gaya dan cara baru menghidupi KBG untuk mewujudkan Gereja Indonesia yang semakin berakar dalam budaya-budaya setempat, yang mempromosikan nilai-nilai kebebasan, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan serta menolak dikotomi antinomik antara klerus dan awam.

Pembenahan hidup menggereja di Indonesia perlu dilakukan dengan usaha-usaha yang serius dalam berteologi, secara khusus dalam bereklesiologi. Sebagaimana sudah seringkali dikatakan, sebuah eklesiologi Indonesia harus dibangun di atas dasar pengalaman iman umat Indonesia yang hidup di tengah sebuah bangsa yang diwarnai oleh kemiskinan dan pluralitas agama serta budaya. Seperti semua orang lain, umat Katolik Indonesia pun memiliki kerinduan dan kebutuhan untuk mengungkapkan imannya dalam konteks historis dan kulturalnya. Agar lebih menangkap cita rasa (sensus catholicus) umat Katolik Indonesia, para teolog dan pelayan pastoral perlu melibatkan diri dalam pergumulan dan perjuangan masyarakat mengatasi berbagai masalah dan tantangan hidupnya. Dalam usaha merancang-bangun eklesiologi Indonesia, kemitraan antara teologi dengan ilmu-ilmu empiris-sosial merupakan sebuah keniscayaan, karena berteologi berarti mempertemukan pengalaman manusiawi dengan yang ilahi. Tanpa mengabaikan kekhasan berbagai disiplin ilmu, kemitraan dimaksud terwujud dalam dialog yang terus-menerus dan proporsional.

Visi dasar yang perlu ditekankan dalam merancang dan membangun eklesiologi Indonesia adalah persaudaraan lintas batas dalam semangat egaliter dan kebebasan. Menjadi Kristen berarti menjadi saudara-saudari Yesus dan menjadi saudara-saudari satu sama lain.

Di dalam persaudaraan ini Yesus dialami sebagai guru yang menuntun kepada keberakaran dalam Allah yang disebut Abba/Bapa dan terbuka bagi permasalahan dunia, berdialog dengan komunitas-komunitas kultural dan religius lain serta memberikan inspirasi untuk memperjuangkan dunia yang lebih baik. Sebagai Sabda Allah yang menjadi daging dan masuk ke dalam dunia dan sejarah manusia (bdk. Yoh 1:14), Yesus menjadi tanda keberpihakan Allah dengan orang-orang yang miskin dan terpinggirkan (bdk. Mat 25:40) serta menjadi tanda harapan yang membebaskan, menyembuhkan yang berluka (bdk. Luk 5:12-26), berbelas kasih terhadap yang berkekurangan (bdk. Mat 14:14), berani memberikan koreksi terhadap sikap, pola pikir dan struktur yang tidak benar dan tidak adil (bdk. Mat 23:1-36).


3. Rekomendasi

Memperhatikan pemikiran-pemikiran di atas, maka beberapa hal ini kami sampaikan untuk ditindaklanjuti:

1. Agar KWI tetap memfasilitasi pertemuan para ahli ilmu-ilmu empiris-sosial dan para teolog guna meningkatkan dialog interdisipliner agar dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran teologis, khususnya eklesiologi dan kristologi yang berjiwa Indonesia.
2. Agar KKM-KWI dalam kerjasama dengan komisi-komisi KWI dan keuskupan-keuskupan memperhatikan pola-pola pendekatan dialogal dengan berbagai kelompok yang tertindas dan kelompok dari budaya maupun agama yang berbeda dalam upaya mengembangkan KBG.
3. Agar KKM-KWI dalam kerjasama dengan komisi-komisi KWI dan keuskupan-keuskupan memfasilitasi KBG-KBG untuk merancang pola-pola pendidikan bagi para pemimpin dan pelaku pastoral yang memenuhi harapan dan tuntutan pengembangan KBG.
4. Agar keuskupan-keuskupan memfasilitasi KBG-KBG untuk menemukan dan mengembangkan model penghayatan spiritualitas KBG yang berakar dalam nilai-nilai budaya masyarakat setempat, sesuai semangat Yesus Kristus.
5. Agar KKM-KWI memfasilitasi studi dan penelitian guna membangun model-model eklesiologi dalam masyarakat majemuk.


Penutup

Selama hari-hari pertemuan di Palangka Raya kami saling memperkaya dengan pengalaman dan gagasan-gagasan. Kami semakin sadar akan pentingnya pertemuan-pertemuan seperti ini guna menambahkan semangat kami dalam usaha bersama membangun eklesiologi Indonesia. Sambil mengucapkan terima kasih bagi semua yang sudah memungkinkan berlangsungnya pertemuan ini, kami menegaskan komitmen kami untuk tetap melakukan refleksi kritis sebagai bentuk partisipasi kami dalam pengembangan KBG demi melayani Gereja Indonesia.

Palangka Wacana Soverdi,
Palangka Raya, 3 Juli 2007

-----------------------------------------------------------------------------------------

Hasil pertemuan Komisi Karya Misioner KWI bersama Ditjen Bimas Katolik di Wisma Soverdia Palangka Raya 30 Juni - 3 Juli 2007.
Peserta : 36 orang. Terdiri dari para dosen misiologi dan pelaku pastoral di Regio/Keuskupan.
Rumusan rekomendasi Komisi-komisi KWI mencakup juga Sekretariat dan Lembaga-lembaga di KWI.

kiriman: P. Patris Pa - Sekretaris KKM KWI



Viewed: 1778 ; Printed: 773


~~ arsip ~~