BOOK REVIEW

Panggilan Menjadi Formator Seminari

Referensi buku menjadi formator seminari dari Komisi Seminari KWI

Detail ..

Chairil dan (Penyaliban) Isa

05 April 2007 17:24

Itu Tubuh/Mengucur darah/Mengucur darah// Roboh/ Patah// Mendampar Tanya: aku salah?// Kulihat Tubuh mengucur darah/ Aku berkaca dalam darah// Terbayang terang di mata masa/ Bertukar rupa ini segera// Mengatup luka/ Aku bersuka// Itu Tubuh/ Mengucur darah/ Mengucur darah.

Itulah sajak Chairil Anwar, Isa, dibuat tahun 1943.

Memang, Chairil sama sekali tidak menyebut kata "salib" dan "penyaliban". Namun, deskripsi puitis tentang tubuh yang mengucur darah, roboh, dan patah, mengatup luka dan dihubungkan dengan "Isa", membawa kita pada peristiwa salib Yesus.

Chairil Anwar merenungkan peristiwa salib secara tepat. Di mata Chairil, salib bermakna ganda, bermata dua.

Mata pertama memandang salib sebagai kucuran darah dari sang Tubuh yang roboh dan patah. Mata kedua memancarkan peristiwa salib sebagai rupa yang segera bertukar, dari "darah yang mengucur dari Tubuh yang roboh dan patah" menjadi "luka yang mengatup dan mendatangkan terang serta suka(cita)".

Secara teologis, permenungan puitis Chairil Anwar benar! Peristiwa salib Yesus tidak hanya merupakan peristiwa kekerasan yang mendatangkan kehancuran. Peristiwa salib Yesus juga merupakan kemenangan, kesembuhan, terkatupnya luka, dan hadirnya terang serta sukacita.

Sukacita salib Yesus bukan sukacita karena sikap masokis, tetapi sukacita akibat gerakan mesianis. Salib Yesus mendatangkan kemenangan dan penebusan bagi mereka yang haus kebenaran dan keadilan.

Meminjam penuturan Leonardo Boff (1980:8), seperti teologi, peristiwa salib Yesus bersifat ganda. Teologi bersifat ante et retro occulata, bermata dua; begitu juga peristiwa salib Yesus. Seperti teologi, salib Yesus memuat dua sudut pandang.

Pertama ada dalam sejarah. Salib Yesus terpusat pada Yesus Historis, yakni kehidupan-Nya, penyiksaan yang dialami-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.

Sudut pandang kedua, aktualitas perjuangan Yesus sendiri, yang hingga kini kerap dihadirkan kembali dalam diri mereka yang dihukum, didera, disiksa, dibelenggu, dan dibunuh secara tidak adil demi memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Tanda kemenangan

Secara historis, peristiwa salib Yesus terjadi pada 7 April 30, saat Pontius Pilatus menjadi Gubernur Romawi (Fulton Oursler dan April Oursler Armstrong, 1966:8). Saat itu, salib Yesus merupakan konsekuensi perjuangan-Nya demi kebenaran dan keadilan. Kebenaran dan keadilan yang diperjuangkan Yesus berbeda dengan yang digembar-gemborkan para penguasa agama dan politik pada zaman-Nya.

Kebenaran dan keadilan yang diperjuangkan Yesus selalu berakar pada jeritan, lapar dan haus kaum tertindas, rakyat papa-miskin, kaum berdosa dan kaum marjinal. Yesus berjuang demi kebenaran dan keadilan bagi mereka yang paling membutuhkan: mereka yang melarat dan diperlakukan secara tidak adil oleh konglomerat, mereka yang sakit- sekarat dan disisihkan ke pinggiran, mereka yang dicap berdosa dan dibuang dari lingkungan agama.

Perjuangan yang dilakukan- Nya menjadi batu sandungan bagi para penguasa agama dan politik sezaman-Nya. Itu sebabnya, mereka bersekongkol menyingkirkan Yesus. Persekongkolan antara penguasa agama dan politik menghasilkan keputusan hukuman salib terhadap Yesus.

Hukuman salib yang merupakan hukuman tersadis dan terngeri seturut tradisi Romawi bagi para pemberontak politik—demi efek jera agar tidak lagi bergerilya —dijatuhkan terhadap Yesus. Melalui hukuman salib yang diterima-Nya, meski bukan karena kesalahan-Nya, Yesus membiarkan diri-Nya bersetia-kawan dengan semua orang yang tertindas dalam sejarah kehidupan.

Itu sebabnya, gema penyaliban terhadap Yesus masih bergaung saat kita menyaksikan sesama diperlakukan secara tidak adil. Salib terjadi lagi dalam kehidupan mereka yang difitnah, dikejar, dipenjarakan, diserang, dibuang, diciduk, dihukum, dibantai, dan dibunuh secara tidak adil.

Tanda kemenangan

Namun, salib bukan tanda kekalahan. Salib adalah tanda kemenangan. Yesus yang tersalib sekian milenium lalu masih dikenang sebagai pejuang kebenaran, keadilan, dan kehidupan hingga hari ini dan di masa datang. Demikian juga mereka yang menjadi korban ketidakadilan, yang hilang, ditembak, dan dihukum mati secara tidak adil, akan terus menjadi inspirasi bagi perjuangan demi kebenaran dan keadilan sampai akhir zaman.

Di sinilah, salib menjadi tanda kemenangan. Kemenangan itu tampak dalam kesetiakawanan dan solidaritas yang senantiasa bertumbuh di setiap zaman dan kehidupan terhadap mereka yang menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan. Kemenangan itu terpancar dalam diri kita yang kendati diperlakukan secara tidak adil, namun tidak pernah berhenti dalam menciptakan kondisi kehidupan yang lebih manusiawi, damai, dan sejahtera.

Salib tanda kemenangan terungkap dalam segala hasrat, tekad, dan upaya untuk berlaku adil, menciptakan persaudaraan sejati, kerukunan antarumat dan masyarakat! Susah payah memberantas korupsi dan menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera pun merupakan tanda kemenangan salib!

Salib menjadi tanda kemenangan, sebab kematian Sang Tersalib berbuah kebangkitan. Salib tanda kemenangan, sebab itu Tubuh yang mengucur darah, roboh dan patah, segera berubah rupa, mengatup luka membuat aku bersuka dalam terang masa!

Salib menjadi tanda kemenangan, sebab Dia yang disalib dan disesah kini menjadi yang disembah sebagai Putra Allah: Crucem tuam adoremus, pada salib-Mu kami menyembah. Semoga kami pun menjadi berkah tanpa mengenal lelah!

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah Inspirasi, Lentera yang Membebaskan, Semarang

KOMPAS Kamis, 05 April 2007

Baca berita dari Kompas

Viewed: 2250 ; Printed: 709


~~ arsip ~~